Ironi Fast Fashion: Ketimpangan Kelas dalam Gerakan Lingkungan

Ironi Fast Fashion: Ketimpangan Kelas dalam Gerakan Lingkungan

Kamis, 23 April 2026 14.30 WIB

Menjaga bumi seringnya terlihat seperti tugas yang harus diemban bersama. Namun dalam urusan fashion, tidak semua orang diberi pilihan yang sama.


RUANGWARTA-UPNJATIM.COM SURABAYA – Tagar boikot fast fashion semakin mudah ditemui di media sosial. Banyak pengguna internet mengajak publik berhenti membeli pakaian murah yang diproduksi massal karena dianggap merusak lingkungan. Ajakan itu terdengar masuk akal. Industri mode global memang dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah tekstil, konsumsi air tinggi, serta emisi karbon dalam jumlah besar.


Masalahnya, seruan tersebut sering muncul dari ruang yang jauh dari kenyataan sebagian orang. Bagi kelompok menengah ke bawah, membeli pakaian bukan lagi perkara mengikuti tren atau tampil gaya. Pakaian adalah kebutuhan harian, baik itu seragam kerja, baju sekolah anak, celana untuk dipakai berulang kali, atau kaus pengganti ketika yang lama sudah rusak. Saat dana yang ada terbatas, pertimbangannya menjadi sangat sederhana dimana orang akan membeli barang yang bisa dibeli hari ini.


Rak Pakaian Diskon Di Pusat Perbelanjaan

Sumber foto: Twitter/X @Galuh_Official


Istilah fast fashion merujuk pada model bisnis yang memproduksi pakaian secara cepat, murah, dan terus berganti mengikuti tren. Koleksi baru hadir dalam waktu singkat, mendorong konsumen membeli lebih sering. Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), industri fesyen menyumbang dampak besar terhadap lingkungan, mulai dari penggunaan sumber daya alam hingga persoalan sampah tekstil. Kritik terhadap fast fashion karena itu bukan tanpa alasan.

Namun, persoalan lingkungan tidak bisa dibaca hanya dari data saja. Di balik ajakan membeli pakaian berkelanjutan, ada kenyataan bahwa produk dengan label ethical, sustainable, atau eco-friendly umumnya dijual lebih mahal. Harga satu kemeja ramah lingkungan bisa setara beberapa potong pakaian biasa. Bagi konsumen berpenghasilan mapan, itu mungkin pilihan sadar. Bagi keluarga dengan anggaran pas-pasan, itu kemewahan.

Di sinilah ironi itu terlihat. Kelompok yang paling sering diminta mengubah kebiasaan justru merupakan kelompok dengan ruang pilihan paling sempit. Mereka diminta membeli lebih bijak, sementara harga kebutuhan pokok terus naik. Mereka diminta peduli jejak karbon, sementara ongkos hidup sehari-hari lebih mendesak untuk dipikirkan. Menyalahkan konsumen kecil karena membeli pakaian murah sama mudahnya dengan melupakan mengapa barang murah selalu dicari.

Alternatif yang kerap ditawarkan adalah thrifting atau membeli pakaian bekas. Pilihan ini memang lebih masuk akal. Harga lebih rendah, pakaian masih layak pakai, dan usia barang bisa diperpanjang. Di banyak kota, thrifting menjadi jalan tengah bagi mahasiswa dan pekerja muda yang ingin berhemat sekaligus mengurangi konsumsi baru.

Tetapi thrifting pun bukan jawaban sempurna. Ketika tren ini semakin populer, harga pakaian bekas ikut naik. Tidak sedikit barang murah diborong lalu dijual kembali dengan margin tinggi. Sebagian pasar pakaian bekas yang dulu menjadi tempat masyarakat berpenghasilan rendah mencari kebutuhan justru berubah menjadi ruang berburu gaya hidup baru. Barang yang semestinya murah kembali menjadi komoditas.

Peneliti fesyen berkelanjutan, Kate Fletcher, menilai perubahan konsumsi harus dibarengi perubahan sistem produksi. Artinya, beban tidak bisa sepenuhnya diletakkan pada konsumen. Industri tetap memegang peran besar lewat produksi berlebih, tren yang dibuat cepat usang, serta promosi agresif yang mendorong belanja impulsif. Selama logika pasar seperti itu dipertahankan, konsumen akan terus diarahkan membeli lebih banyak.

Karena itu, gerakan lingkungan semestinya tidak berhenti pada seruan moral. Pilihan berpakaian yang lebih etis harus dibuat terjangkau, tahan lama, dan mudah diakses. Dukungan terhadap penjahit lokal, produksi skala kecil, perbaikan pakaian, hingga pasar pakaian bekas yang sehat jauh lebih realistis daripada sekadar menyuruh semua orang berhenti belanja.

Fast fashion memang menyisakan masalah besar bagi bumi. Tetapi lebih ironis lagi jika solusi yang ditawarkan hanya bisa dibeli segelintir orang. Saat menjaga lingkungan terasa mahal, yang sedang bermasalah bukan hanya konsumen, melainkan sistem itu sendiri.



Infografik Ironi Fast Fashion (referensi katadata & edit via canva)

Referensi:
United Nations Environment Programme. (2023). Sustainability and Circularity in the Textile Value Chain.

Fletcher, K. (2019). Sustainable Fashion and Textiles: Design Journeys. Routledge.

Niinimäki, K. et al. (2020). The environmental price of fast fashion. Nature Reviews Earth & Environment.

Penulis:
Novia Deviyanna

#Pop Writing #Fashion #DailyOutfit #FastFashion #Lingkungan #Sosial #KetimpanganSosial

 






Comments

Popular posts from this blog

93,8% Pelaku Pelecehan Seksual Didominasi Laki-Laki: Masih Adakah Ruang Aman Bagi Perempuan?

Perjalanan Alkateri Menuju Panggung yang Lebih Luas