“Ayah Ini Arahnya ke Mana, ya?”: Potret Kebingungan Sosial di Tengah Tekanan Hidup Modern
Jum’at, 24 April 2026 16.00 WIB
RUANG WARTA-UPNVJT. COM SURABAYA
Di Tengah dinamika kehidupan modern, peran seorang ayah tidak lagi sesederhana menjadi
pencari nafkah saja. Tekanan dari kehidupan pun mulai terasa serperti tuntutan ekonomi,
tuntutan sosial, hingga perubahan pola komunikasi dalam keluarga membuat banyak figur
ayah berada dalam posisi yang membingungkan. Fenomena ini tergambar dalam realitas
sosial yang belakangan ini ramai diperbincangkan dengan pertanyaan yang sederhana
namun penuh makna “ayah ini arahnya ke mana?”
Fenomena ini menjadi refleksi sosial yang mampu menyampaikan realitas kehidupan secara
emosional dan dekat dengan para penontonnya. Hal ini terlihat dalam film yang mengangkat
kisah hubungan antara ayah dan anak yang penuh luka, jarak, dan beingungan dengan arah
hidupya.
Dilansir dari berita Kompas, film ini merupakan film adaptasi dari novel yang sangat laris
karya Khoirul Trian yang kemudian di angkat ke layer lebar sebagai Gambaran keluarga yang
cukup kompleks. Cerita ini difokuskan pada tokoh bernaman Dira yang hidup Bersama
dengan ayahnya, namun tetap merasakan kekosongan pada emosionalnya.
Sosok ayah disini digambarkan hadir secata fisik namun tidak mampu memberikan kedekatan
emosionalnya dalam keluarga sehingga Dira kehilangan arah. Film ini juga menyorot isu
yang ramai yaitu fatherless, kondisi dimana peran emosional ayah yang tidak berjalan
optimal meskipun ia tetap berada dalam keluarga tersebut. Pada film ini jugamenggambarkan bagaimana komunikasi dalam keluarga yang tidak sehat dapat memacu luka
batin yang berlarut – larut.
Hubungan antara ayah dan anak tidak lagi hangat, melaikan di penuhi oleh konflik,
kesalahpahaman, dan jarak emosional. Selain itu aspek ekonomi juga menjadi latar belakang
yang penting dalam masalah keluarga. Sosok ayah yang di gambarkan pada film menghadapi
tekanan finansial yang berdampak pda hubungan anak – anaknya. Kondisi ini membuat
komunikasi semakin jauh dan kehadiran ayah pun terasa semakin jauh.
Menariknya, film ini mendapat respons yang cukup besar dari masyarakat. Film ini berhasil
meraih ratusan ratusan ribu hingga jutaan penonton hanya dalam kurun waktu singkat sejak
penayangan film ini di bioskop. Keberhasilan menunjukan bahwa tema yang di angkat pada
film ini sangat dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Banyak dari penonton merasa
terhubung dengan cerita yang di sajikan karena menggambarkan kondisi nyata yang terjadi di
dalam keluarga.
Film “Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?” tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga refleksi
sosial yang kuat. Film ini mengingatkan bahwa kehadiran ayah tidak cukup hanya secara fisik,
tetapi juga harus diiringi dengan keterlibatan emosional dan komunikasi yang sehat. Pada
akhirnya, pertanyaan “ayah ini arahnya ke mana?” bukan hanya menjadi judul film, tetapi
juga menjadi cerminan kegelisahan banyak keluarga modern yang masih mencari arah dalam
membangun hubungan yang utuh.
Byline:
Angeli Bunga Febriana
Label:
Pop Writing,Film,Sosial

Comments
Post a Comment