Fenomena FOMO di Kalangan Remaja Indonesia: Tekanan Sosial di Era Digital
Fenomena FOMO di Kalangan
Remaja Indonesia: Tekanan
Sosial di Era Digital
Jum’at, 24 April 2026 15.20
WIB
RUANGWARTA-UPNJATIM.COM SURABAYA
Keinginan untuk selalu terhubung
dan tidak tertinggal informasi menjadi bagian dari kehidupan remaja di era digital. Namun, di
balik kemudahan akses tersebut, muncul fenomena yang
dikenal sebagai
Fear of Missing Out (FOMO), yaitu
rasa cemas ketika merasa tertinggal dari pengalaman orang lain.
SURABAYA – Di tengah pesatnya
perkembangan media sosial,
remaja Indonesia kini semakin
sering dihadapkan pada berbagai unggahan
yang menampilkan gaya hidup, pencapaian, hingga aktivitas sosial teman sebaya. Paparan konten tersebut
secara tidak langsung membentuk
standar sosial baru yang kerap memengaruhi cara pandang individu
terhadap diri mereka sendiri.
Sejumlah pelanggan POP MART mengantre
untuk membeli boneka
Labubu di Gandaria
City Mal, Jakarta pada Jumat
(19/7/2024) .Sumber: Antara Foto/Farika Khotimah
FOMO umumnya
muncul ketika seseorang terus-menerus membandingkan kehidupannya
dengan orang
lain. Unggahan tentang
liburan, prestasi akademik, hingga gaya hidup konsumtif
sering kali memicu perasaan tidak cukup atau tertinggal, meskipun realitas yang
ditampilkan
belum tentu sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya.
Bagi sebagian
remaja, fenomena ini berdampak pada pola pengambilan keputusan sehari-hari.
Tidak sedikit
yang merasa perlu mengikuti tren, menghadiri berbagai
acara, atau membeli
barang tertentu
demi menjaga eksistensi sosial di lingkungan pertemanan maupun dunia digital.
Kondisi tersebut
tercermin dari kecenderungan remaja yang merasa
perlu selalu terlibat
dalam berbagai aktivitas sosial agar tidak dianggap tertinggal. Dorongan
untuk terus mengikuti tren sering kali muncul bukan karena kebutuhan, melainkan
tekanan sosial yang terbentuk dari
lingkungan digital.
Selain memengaruhi perilaku, FOMO juga berdampak pada kondisi psikologis. Rasa cemas, stres,
hingga kelelahan mental dapat muncul akibat dorongan untuk selalu terhubung dan
mengikuti perkembangan terkini. Dalam jangka panjang, kondisi
ini berpotensi mengganggu keseimbangan aktivitas
sehari-hari.
Fenomena ini turut diperkuat oleh algoritma media sosial yang secara konsisten menampilkan konten serupa, sehingga memperbesar kecenderungan
individu untuk terus membandingkan diri. Tanpa disadari, hal tersebut
menciptakan siklus yang sulit dihentikan dan memperkuat
perasaan FOMO.
Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan fenomena
ini, penting bagi remaja untuk mulai
memahami batasan dalam penggunaan media sosial. Mengelola waktu penggunaan
serta fokus pada kebutuhan pribadi menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan
mental di
tengah arus informasi yang terus berkembang.
FOMO bukan sekadar
tren sesaat, melainkan refleksi dari dinamika
sosial di era digital yang semakin kompleks. Oleh karena itu,
sikap bijak dalam menyikapi informasi menjadi kunci agar remaja tidak terjebak
dalam tekanan sosial yang tidak disadari.
Byline :
Bintang Farrel
Dharmawan
Label:
Pop Writing,
FOMO, Media Sosial,
Kesehatan Mental, Remaja
Comments
Post a Comment